POPULER

29 01 2008

Menjadi popular adalah impian setiap orang . Baik yang diperoleh dengan meniti karir dari bawah ataupun instant. Namun tak sedikit yang kadang menempuh dengan segala macam cara , tak perduli halal atau tidak . Dan tak sedikit pula yang memulainya dengan cara 100 % halal.

Disadari atau tidak , segala sesuatu di dunia ini tak ada yang abadi , termasuk juga kepopuleran .

Hal inilah yang sekarang terjadi pada Fika Ratnasari , mantan artis terkenal yang sekarang sudah memasuki usia senja . Tinggal hanya bersama Nah , pembantu setia di rumah yang ia dapat saat terkenal dulu. Rumah besar itu kosong perabotan .

Fika memandang lagi foto-foto diri , saat ia masih terkenal dan dikagumi oleh banyak orang . Ia salah satu artis ternama di era 70 – an . Usianya kini hampir 55 tahun , dan sekarang tengah berjuang menghadapi penyakit kanker yang sudah menggerogoti tubuhnya lebih dari 10 tahun terakhir ini .

“ Oh … betapa cantiknya aku dulu , banyak pria penggemarku yang saling memperebutkan diriku. “ Fika tersenyum sendiri mengenang saat itu .

Sebuah piala dari penghargaan film bergengsi teronggok di antara potret dirinya di kamar tidur yang terkesan pengap dan sempit. Ia mengedarkan lagi pandangannya ke sekeliling ruangan kamar dari atas tempat tidur , karena memang hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang. Maklum sejak 3 tahun belakangan ini penyakit yang ia derita semakin parah , praktis ia hanya bisa berada di tempat tidur. Seluruh harta yang dia peroleh saat masih jaya dulu telah habis terkuras untuk biaya pngobatannya. Yang tertinggal hanyalah rumah ini , dan piala penghargaan atas perannya dalam sebuah film dari ajang festival film bergengsi saat itu.

Ia kini hanya ditemani oleh Nah , pembantu setia yang sekarang mengurusi dirinya. Sedang suami Fika sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Anak satu-satunya , Sintia , memutuskan ikut suami yang bertugas di luar kota sejak 8 tahun yang lalu. Paling ia datang pada saat lebaran , itu pun paling lama 3 hari , alasannya karena suaminya tak bisa meninggalkan pekerjaan lama-lama. Fika coba memaklumi sikap anaknya itu , karena ia sadar dengan seabrek aktivitasnya dulu sebagai artis yang lagi popular , ia harus selalu meninggalkan keluarganya .

Fika menyesal sekali , namun waktu tak bias diputar kembali.

Diambilnya foto kenangan ia , suaminya , dan sintia saat mereka berlibur di puncak Bandung. Saat itu Sintia masih berumur 8 tahun . Foto yang sudah sangat tua , dan usang. Betapa kebahagiaan terpancar dari wajah mereka di foto itu. Fika menjadi sangat terharu sekali mengingat kejadian itu.

“ Mas Han , aku rindu sekali denganmu “ gumam Fika lirih.

Saat ini ia baru menyadari betapa sebenarnya ia memiliki keluarga yang bahagia , suami yang mencintai dan memiliki kesetiaan luar biasa , mendampingi Fika hingga ajal menjemput , setia menemani dalam suka dan duka , Sintia yang lucu , cerdas dan pintar. Seharusnya ia bersyukur , karena banyak orang yang mengidamkan keluarga yang harmonis seperti itu. Namun ia seperti menyia-nyiakan mereka demi mengejar ambisi dan popularitasnya. Beruntung zaman dulu belum ada infotainment gossip sehingga tidak ada gossip tentang keluarganya. Meski demikian tak urung kadang Fika harus berpura-pura menampilkan keluarga yang harmonis dan bahagia.

Berkali-kali Handoko suaminya mencoba menasehati untuk lebih fokus mengurus keluarga ketimbang mengejar kepopuleran sebagai artis , namun saat itu Fika tak pernah menggubrisnya . Baginya karir adalah nomor satu , keluarga berada di urutan yang kesekian.

Beruntung Handoko adalah suami yang sabar dan setia , sehingga rumah tangga mereka bias awet , tidak seperti rumah tangga artis di zaman sekarang yang hobi kawin cerai.

Nasi sudah menjadi bubur , Fika hanya bias bersedih menyesali nasibnya sekarang.

“ Maafkan aku mas Handoko , aku sudah menelantarkan keluarga kita , menelantarkan putri kita Sintia , sehingga aku terlantar sekarang mas. Aku harap mas bahagia , aku ingin ikut mas , ingin mengabdi dan menjadi istri yang lebih baik mas. “ Ujar Fika berdoa dalam hati.

Saat seperti ini Fika merasa sangat kesepian . Tak ada lagi penggemar yang dulu setia dengannya , tak ada perhatian dari teman-temannya yang dulu bilang setia saat ia masih jadi artis dulu. Semua itu sudah tak ada lagi , ibaratnya sirna bersamaan dengan pudarnya kepopuleran yang ia miliki.

Sungguh manusia memang tak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya , baru sadar saat semua itu hilang.

“ Bu …. Mbok jangan sedih terus , nanti penyakitnya tambah parah . Ini diminum dulu obatnya biar cepat sembuh . “ Ujar Nah pembantu setianya , yang sudah ada di dekat Fika dengan membawa obat dan segelas air putih.

Fika kemudian meminum obatnya .

“ Hari ini kita makan apa Nah “

“ Cuma tempe an tahu goreng aja bu , masalahnya simpanan kita sudah mulai menipis . Bu Sintia kemarin mengirim surat , katanya agak telat mengirim uang buat keperluan ibu , Rio anaknya sedang sakit dan butuh biaya besar untuk pengobatannya. “ Ujar Nah menjelaskan sambil memijat kaki Fika.

“ Nah … ibu minta maaf ya , ibu ndak bisa gaji kamu lagi , ibu sudah menyusahkan Nah. Kalau memang ada yang lebih cocok buat Nah , ibu ngga keberatan kok kalau kamu pindah. “

“ Ibu jangan ngomong gitu , Nah senang kok kerja sama ibu biar ndak digaji juga ngga apa-apa . Ibu sudah banyak menolong Nah dan keluarga. Meski sekarang mereka ndak ingat sama Nah lagi. Nah juga ngga tega ninggalin ibu dalam keadaan seperti ini . Nah ikhlas kok bu. Soal gaji ndak usah ibu pikirin , Nah sekarang sudah sebatang kara bu , jadi izinkan Nah tetap bekerja merawat ibu ya . Ibu sudah Nah anggap sebagai saudara sendiri . Maap ya bu kalau Nah lancang.”

“ Nggak kok Nah , Ibu malah senang dan terharu , Ibu juga nganggap kamu sebagai saudara ibu . “

Fika kemudian berusaha memeluk Nah dan disambut. Mereka saling berpelukan melepas keharuan dalam nasib yang dijalani sekarang.

“ Terima kasih ya Nah , ibu ndak bias membalas kebaikanmu , semoga Allah membalasnya. “

“ Amin bu “

“ Nah … begini saja , bagaimana kalau rumah ini dijual saja , juga piala itu . Kita pindah ke rumah yang lebih kecil. Lumayan bisa menyambung hidup kita , jadi ndak perlu menyusahkan Sintia lagi .”

“ Jangan Bu , rumah ini dan piala itu tinggal satu-satunya peninggalan saat ibu jadi artis terkenal dulu . “

“ Ya itu khan dulu Nah , semuanya sudah berlalu. Popularitas yang dulu saya miliki semuanya sudah musnah . Jadi rumah dan piala itu tak ada harganya lagi bagi saya. Itu semua semu Nah. Dan semua itu membuat ibu tersiksa lebih-lebih lagi bila melihat piala itu . “

Air mata Fika kini menitik , hatinya terasa rapuh.

“ Ya wis bu , kalau gitu biar Nah saja yang nyimpan . Kebetulan Nah masih punya sedikit simpanan , jadi anggap saja ibu menjual sama Nah , mudah-mudahan saja cukup sampai bu Sintia bias mengirim uang lagi .”

“ Jangan Nah , ibu ngga mau nyusahin kamu lagi . “

 

“ Ngga kok bu , Nah senang dan ikhlas .”

“ Ya sudah Nah terserah kamu saja . “

“ Wes , sekarang ibu istirahat saja , Nah mau masak dulu. “

Nah pun berlalu meninggalkan Fika dalam kesendiriannya.

*

Sore ini udara mendung , semendung cuaca yang menggelayuti rumah Fika Ratnasari . Kelabu yang kelam seolah ikut menyeruak suasana.

“ Bu ini ada titipan surat dari Bu Fika “ Ujar Nah menyerahkan pada Sintia.

Kemudian perlahan Sintia membukanya.

 

Assalamualaikum Sintia Anakku Tersayang.

Pertama sekali dari lubuk hati ibu yang paling dalam , ibu minta maaf sama kamu nak. Ibu sadar ibu bukanlah contoh orang tua yang baik. Ibu sudah menelantarkan kamu nak saat kamu butuh kasih sayang seorang ibu. Ibu sibuk mengejar karir dan popularitas keartisan .

Hari itu tanggal 18 Januari 1980 , saat ulang tahunmu yang ke 17 , ibu tidak bisa hadir . Sebenarnya ibu ingin sekali datang nak , ibu sudah menyiapkan kado yang bagus untuk kamu .

 

Namun ibu lebih memilih pekerjaan ibu daripada dating dan ikut merayakan pesta ulang tahunmu. Ibu tau betapa kecewanya kamu , sampai sekarang mungkin kamu masih marah pada ibu. Ibu menyesal sekali nak . Sampai sekarang ibu masih menyimpan kado itu , ibu menitipkannya pada Nah . Sebenarnya ingin sekali ibu sendiri yang memberikan , namun ibu ngga punya keberanian nak , ibu merasa sulit sekali melakukannya. Semoga kamu nanti suka dengan kadonya.

Ibu minta maaf ya , kamu mau khan memaafkan ibu ?

Ibu selalu berdoa demi kebahagiaan kamu dan keluargamu. Tak ada yang ibu tinggalkan selain cinta dan kasih sayang yang tulus untukmu.

Pesan ibu nak , jangan kau lakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah ibu lakukan dulu. Keluarga adalah yang utama . Kepada merekalah kita selalu kembali. Keluarga yang hangat dan harmonis cerminan kebahagiaan.

Popularitas dan ketenaran hanya bersifat sesaat tak ada yang abadi .

Kalau nanti ibu sudah tidak ada saat kau membaca surat ini , ajaklah Nah tinggal bersamamu , kasihan dia sebatang kara , lagipula ia telah banyak menolong ibu , anggaplah ia sebagai ganti ibu ya , karena ibu sudah mengganggapnya sebagai saudara ibu sendiri.

Dan di dalam amplop ini juga ada sertifikat rumah ini. Terserah kau nak mau dijual atau ditempati sendiri.

Akhirnya semoga kebahagiaan selalu menyertaimu nak . Ingatlah selalu pada Allah SWT . Jangan lupakan Dia nak , karena kita semua adalah ciptaan-Nya . Mengadu dan berdoalah untuk meminta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Titip salam buat Rio cucu ibu , dan Prasetyo suamimu , ibu merestui hubungan kalian berdua nak.

 

Dari Ibu yang selalu mencintai Sintia

Bunda Fika Ratna Dumilah

Wassalam.

 

 

“ Ini Bu , kado yang dititipkan ibu Fika pada saya “ Ujar Nah sambil menyerahkan pada Sintia.

Sintia membukanya , sebuah liontin yang berlapiskan emas dengan foto Handoko dan Fika di sisi kanan , dan foto dirinya saat kecil di sisi kirinya. Liontin itu berbentuk hati.

Sintia terharu dan merasa bersalah , karena ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang ibunya. Padahal ternyata ibunya sangat menyayangi dirinya. Ia sudah salah menduga sehingga menelantarkan ibunya selama ini.

“ Ibu selalu menyebut nama Bu Sintia dan memegang foto keluarga saat liburan ke Bandung. Sampai kemarin bu , saat ia akan pergi selama-lamanya . Ia melarang saya memberitahu ibu , katanya ngga ingin menyusahkan Bu Sintia yang lagi menunggu operasi Rio. “

Sintia Cuma terdiam dan merasa tambah bersalah.

“ Ibu maafin Sintia, Sintia ngga tau kalau ibu begitu menderita. Dan ibu begitu menyayangi Sintia. “ Ujarnya lirih.

“ Sesuai pesan ibu , Mbok Nah tinggal di rumah ini untuk merawat dan mengurusinya. Saya ngga akan menjual rumah ini , dan doakan saja supaya saya bias pindah ke sini , supaya bias dekat dan merawat makam Ibu. “ Ujar Sintia.

“ Oh iya bu , ini satu lagi peninggalan ibu Fika , piala yang didapat dari sebuah festival film bergengsi zaman dulu . Kemarin saya simpan , karena ibu ndak mau ngeliatnya lagi. Sekarang saya kembalikan sama ibu. “

“ Simpan saja Mbok, lagipula saya yakin ibu senang kalau mbok yang menyimpan dan merawatnya. “

Sebuah piala yang menjadi saksi bisu perjalanan karir dan popularitas seorang Fika Ratna Dumilah Alias Fika Ratnasari . Sebuah popularitas yang tak abadi se tak abadi kehidupan di dunia ini .

cerpen ini sudah saya terbitkan di buku kumpulan cerpen saya yang pertama ( antologi ) cinta adalah … cerita tentang cinta yang universal.

terbit di balikpapan tanggal 13 desember 2007 .

bagi yang berminat bole pesan ,,, kirim lewat email bole

di dyandrawicaksono@yahoo.co.id

 

Advertisements

Actions

Information

9 responses

30 01 2008
erander

Cerita yang menyentuh dan inspiratif .. hanya saja, arahnya mudah ditebak sehingga lebih mirip renungan dari pada cerita pendek yang biasanya pada ending ada kejutan.

Apapun .. salut buat Said, yang sangat produktif untuk menulis. Terus dan terus. Pasti lama2, akan mendapat warna tersendiri yang beda dari penulis2 yang sudah ada. Keep going bro.

makasih bang . Emang mungkin lebih cocok jadi cerita pendek kategori renungan . makasih juga atas pujiannya , moga – moga ngga jadi terlena dan tetap terus berkarya untuk menjadi penulis yang punya gaya sendiri . Makasih support dan doanya , terus kasih dukungan ya bang

31 01 2008
elmawardi

Saya membaca dan menemukan isinya. Walau harus menghabiskan sedikit waktu. Sebenarnya saya lebih suka yang to the point dari pada yang bertele-tele. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

sebelumnya saya sangat berterima kasih atas silaturahminya dan sudi membaca cerpen saya . Alhamdulillah ternyata mbak memberikan respon , bagi saya sudah sangat menyenangkan hati saya , karena kalo komentarnya bagus terus kapan saya mau belajar untuk menulis cerpen yang bagus . sering – sering silaturahmi dan memberi kan kritikan ya mbak

31 01 2008
Nin

Saya kira ini kisah nyata. Saya tadi menguras otak, ‘siapa ya Fika itu?’ Ternyata cerpen ya…. Ya, boleh tuh dikirim ke para artis, spy jd pelajaran

Insya Allah mbak , mencoba menyadarkan saja bahwa hidup di dunia ini emang singkat banget .
makasih udah silaturahmi lagi

5 02 2008
Dewi Andriyanti

Persis sm comment sblmnya. Kukira ini kisah nyata. Membaca smbil menyusun fragmen teka teki, siapa sosok fika yg sbnrnya? Eh, tak taunya hanya rekaan. Bagus. Selamat berkarya.MAju terus pantang mundur.Smangat!!!

terima kasih banyak mbak atas dukungannya . Insya Allah akan tetap semangat buat menulis.
terima kasih sudah silaturahmi terus , sering – sering ya silaturahmi nya

6 02 2008
varendy

ceritanya asik mas, jadi kepingin belajar nih bikinnya, he3x

a comment from varendy.wordpress.com

boleh banget . kalo mo konsultasi boleh sharing di alamat email saya dyandrawicaksono@yahoo.co.id . atau juga bole lewat blog ini . makasih ya atas kunjungannya , sering – sering silaturahmi ya

6 02 2008
Dewi Andriyanti

Aq bersilaturahim lagi ya :).sorry klo nganggu.punya alamat FS or email nggak?
klo punya fs,mo kuadd
Thanks

Alhamdulillah , aku malah seneng banget udah mau di silaturahmi lagi . aku punya FS add aja di dyandrawicaksono@yahoo.co.id , dan emailnya juga itu . makasih ya udah ngga bosan – bosan silaturahmi

6 02 2008
Cabe Rawit

Begitulah… popularitas kalo kagak dimanfaatkan dengan baek, bisa menikam. Popularitas juga bukan segala-galanya, karena ia kadang malah memberikan keburukan buat yag empunya,…

yaps , tidak ada yang abadi di dunia ini , semuanya semu . jadi pergunakanlah waktu dengan sebaik – baik nya
terima kasih sudah silaturahmi lagi . sering – sering silaturahmi ya

9 02 2008
dimaskodri

hmm….renungan sekali mas..
jalan ceritanya agak nanggung mas…ada kesan ga pengen mudah ketebak tapi ternyata justru mudah ketebak..

iya , bener banget mas , emang pengennya begitu , tapi ternyata ketebak ya . namanya juga manusia biasa . makasih kritikannya , Insya Allah akan terus belajar untuk terus berkarya . Terima kasih ya sudah silaturahmi lagi

7 01 2011
anc

jujur pendapat saya.. Anda perlu lebih belajar lagi dalam menulis…. kalo diperhatikan masih banyak kekurangan… tapi saya yakin dimana ada kemauan pasti ada keberhasilan… tetap Semangat yah…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s