Saat aku …

18 01 2008

Usiaku kini sudah 26 tahun , sebentar lagi kepala 3 . Tak terasa ya waktu terus berlalu dan usia kita semakin bertambah .

Apakah waktu dan usia yang bertambah itu kita isi dengan hal – hal yang positif atau malah kita melewatkannya begitu saja . Terbuang percuma.

Saat tersadar , aku takut aku sudah tua , sudah mulai pikun , aku melewatkan semua dalam hidupku.

Termenung di panti jompo dalam kesendirian , dalam kesedihan , dalam ratapan yang menyesakkan dada.

Ah .. aku terbayang  lagi wajah ayah yang bekerja dengan sepenuh hati membanting tulang meski usia sudah tak muda lagi . Aku malu yah , kau belum juga beristirahat . Tulangmu yang kian rapuh , dan matamu yang kian kabur seolah tak sanggup ku pandang .

Ibu ku , wanita perkasa , pahlawan tanpa tanda jasa , berjuang mulai dari membawa diriku dalam buaian perutnya , dengan susah payah sampai Tuhan mengizinkan aku menghirup udara di dunia ini .

Belum lagi dengan penuh kasih sayang , sabar yang luar biasa hingga saat ini , masih setia mengasuh dan memberi wejangan .

Tanpa kenal lelah , berjuang demi yang terbaik , meski kadang balasan yang diterima kadang menyakitkan.

Saat aku begitu angkuhnya melepaskan bunda , yanda dari pelukan . Saat aku dengan tega menghempaskan luka yang perih di dada ayah , saat aku mengucapkan kata-kata pedas ke telinga ibu.

Saat dengan tega aku mengusir kalian , menempatkan kalian dalam rumah sosial , menyerahkan kalian pada orang lain . Aku tega mengotori air susu yang ibu berikan , membuang tetesan keringat dan air mata ayah .

Aku tega membiarkan ayah , ibu , sendiri di ruang sepi panti jompo . Aku tega melupakan jasa – jasa kalian .

Aku lupa , tingkah kalian akan kembali lagi seperti anak kecil , aku lupa fisik kalian tak segagah dan sekuat dulu, aku lupa kalian membutuhkan perhatian lebih , kalian lebih cerewet dan rewel . Aku lupa .

Aku juga lupa kalo dulu kalian tak pernah mengeluh mengganti popok ku yang basah saat aku kencing atau buang air besar . Tanpa rasa jijik , kalian dengan ikhlas menggantinya .

Ayah , aku lupa bahwa untuk membelikan apa yang aku inginkan , kadang harga diri kau korbankan begitu saja.

Ah … ayah , ibu , aku lupa….

Saat aku … tersadar itu sudah terlambat , kini aku merasakan yang kalian rasakan , aku kini menghuni panti jompo.

Aku sendiri , aku rindu kasih sayang , aku juga manusia , aku tak ingin dilupakan.

Aku ingat bu , seorang anak tidak akan lahir tanpa ada seorang laki dan perempuan yang melakukan , meski dengan cara yang kata orang haram .

Bekas istri memang ada , bekas suami memang ada .

Tapi bekas anak , bekas ibu , bekas bapak , itu ngga ada.

Ketika aku jatuh , aku serasa gelap .

Saat aku  … membuka mataku ..

wajah teduh ayah menghampiri , senyuman lembut ibu menghias dan membelai manja.

Aku menangis tersedu dan memeluk dengan erat .

Ya Allah terima kasih , aku masih punya ayah , ibu

aku bahagia ya Allah , ayah dan ibu hanya bengong melihat kelakuanku.

Ibu demi air susumu yang tertumpah membasahi ragaku

Ayah demi tetesan air mata dan keringat yang membasahi jiwaku

Aku tak akan menyia -nyiakan dan menyuruhmu tinggal di panti jompo , ayah aku tak mau itu terjadi , aku cinta dan sayang ayah dan ibu.

NB : Kisah ini terinspirasi oleh keadaan orang tua , kakek atau nenek kita yang ditelantarkan di panti jompo . Meski memang kita melihat dari banyak sudut pandang yang berbeda . Tapi sadarilah , saat kita nanti juga menjelang tua , apakah akan kita isi dengan kebahagiaan atau masih bekerja keras seperti mbah gender yang kisahnya ditayangkan di trans tv pada kejamnya dunia , atau kita terlantar karena kita juga menelantarkan orang tua yang berjasa pada kita . Sekeras , sekejam dan secerewet apapun , tetap ia orang tua yang harus dihormati , jangan lupa , jasanya begitu besar pada kita . Meski tidak tutup mata , ada juga orang tua yang tega melukai anaknya , namun yang kita lakukan adalah dengan menghormati dan menghargai orang tua kita sendiri . Cerminkan diri kita seandainya kita berada di posisi mereka.

Doaku pada mereka yang di panti jompo adalah selalu bersabar , karena kunci kesuksesan adalah sabar . Dan mereka adalah orang-orang yang sabar . Dan juga pada pengurus panti yang telah ikhlas mengurus mereka .

Ingatlah , waktu terus berjalan , umur kian bertambah , dan roda terus berputar .


Actions

Information

2 responses

19 01 2008
Bambang Cahyadi

Bersyukurlah kita masih mempunyai orang tua. Semoga tulisan ini menambah kecintaan kita terhadap orang tua kita.

harapannya sich begitu mas , aku ingin ada yang bisa mengambil hikmah dari sini
makasih ya atas kunjungannya , sering-sering mampir ya

19 01 2008
tikabanget™

sayah punya temen, yang neneknya ngotot pengen dibawa ke panti jompo.
keluarganya gak setuju, itu bisa merusak nama baik keluarga..

alasan si nenek apa?
pertama dia merasa ngerepotin anak cucunya.
kedua, dia di panti jompo bkal ketemu temen2 seusia dia.

sayah kok jadi mikir..
mungkin malah lebih baik kayak gitu..
kita gak membelenggu mereka di rumah..
malah kesepian mereka..
di panti jompo, mereka bisa punya temen dan ngumpul sama orang orang seusia mereka..

yap bener banget . Jadi aku nulis ini dari sudut pandang kita yang manusiawi , aku rasa . Tapi kita juga ngga pernah tau khan alasan dari mereka sendiri . Seperti kemaren ada juga yang emang pengen ke panti jompo sendiri , bukan karena dipaksa , tapi atas keinginan sendiri , dan salah satu alasannya , ya karna dia punya banyak teman , yang lebih ngerti dan perduli dengan perasaan mereka sendiri . Orang tua lebih punya rasa ketimbang anaknya , itu menurut saya.
Makasih banyak ya udah silaturahmi . sering – sering mampir ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s