bag ke 2 : journey of life ( kebahagiaan cinta )

27 12 2007

pertemuan tak terduga

Aku berjalan lagi menuju ke rumahku , memang tak jauh letaknya di daerah Klandasan Balikpapan . Memang sedikit agak kumuh , rumah sederhana yang hanya berukuran sangat-sangat minimalis , beratapkan seng dengan lima penghuni di dalamnya. Namun aku masih bersyukur , karena meski begitu ada sejuta kehangatan keluarga di dalamnya . Tuhan aku masih memilih yang seperti ini , ketimbang rumah besar yang megah namun miskin kehangatan di dalamnya . Aku punya orang tua yang selalu menyayangi dan memberi support atas setiap tindakanku, ipar dan adik yang baru mebina rumah tangga dengan ” Ai ” ponakanku yang lucu , usianya baru 8 bulan dan kelakuannya sangat menggemaskan aku . Rasanya di tengah dunia yang gersang dengan cinta dan kasih sayang , aku merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia.

Saat melintasi Ruko Balikpapan aku ketemu dengan teman lamaku Li , dia kerja di salah satu restoran ternama di kawasan itu dengan posisi cukup lumayan . Dulu sekitar 2 tahun yang lalu aku sangat akrab dengannya , namun sejak saat kemarin , saat badai besar menghempas kehidupanku , kami semakin ada jarak.

” Hi … Li , pa khabar ? ”

” Kamu Dyan … kamu ? ”

” Iya Li…. bulan kemaren tanggal 20 , maap ya .. kamu jadi kaget ”

” Ya iyalah … soalnya khan kamu bilang masih 6 bulan lagi , ternyata … ”

” Ya alhamdulillah , Allah baik banget sama aku meski aku sempat meninggalkannya , dan tentunya berkat doa kamu juga Li  ”

” Ya syukurlah , pesan aku never do the same thing ” 

Iya … btw kamu ada acara ngga ? ” Tanyaku lagi

” Ehm … aku ngga enak , tapi emang aku ada acara sama temen aku , lagipula aku juga harus siap-siap buat preparation ke Bali , mungkin dalam 2 hari ke depan aku ke Bali . Kamu ngga apa – apa khan ? ”

” Ngga apa – apa kok Li , ” Jawabku lemas namun aku sembunyikan

” Mhh.. sorry ya dyan, ada temen aku yang jemput , tinggal dulu ya ? ”

Dan Li pergi begitu saja meninggalkan aku

Ah … ternyata dunia masih sama saja , manusia sangat cepat berubah . Li aku paham dengan keadaanku sekarang , aku memang telah berubah 180 % , juga dengan status yang aku miliki sekarang . Tapi Li , apakah hanya karena itu lantas kamu berubah dari aku . Aku masih sama Li , masih dyandra yang kamu kenal 3 tahun silam , ngga ada yang berubah dari aku. Tapi Li , aku menangkap perubahan kamu . Kamu berubah 180 % Li , meski kamu berusaha menutupinya , tapi hatiku berkata lain . Dulu sangat gampang mengajak kamu jalan , entah itu sekedar cuci mata , atau sekedar jalan bareng . Tapi aku juga ngga mau berburuk sangka sama kamu . Mungkin sekarang keadaannya memang sudah berubah , kamu memang harus disibukkan dengan urusan pekerjaanmu di restoran , karena memang persaingan bisnis makanan di balikpapan memang kian ketat. Kita harus punya trik-trik khusus.

Aku memang menyadari sepenuhnya keadaan diriku , meski aku ingin sekali semua menerima keadaanku ini . Naif memang , tapi cuma itu harapanku. Li , aku cuma ngga ingin kamu berubah sama aku. Aku juga manusia yang punya hati dan nurani , dan Li aku lagi butuh teman sejati atau lebih tepatnya sahabat sejati saat ini . Aku sedang dalam keadaan terpuruk , aku bingung dengan arah tujuan dan masa depan aku , aku butuh temen curhat . Meski pengangguran , aku ngga mau nyusahin kamu dengan mengemis pekerjaan sama kamu . Aku masih punya harga diri untuk berjuang sendiri , meski dari nol , meski harus melakukan pekerjaan hina dan kasar sekalipun, aku rela.

Kupandangi saja tubuh Li yang berlalu , terkenang lagi kenangan bersamanya . Bagaimana dia dengan antusias mengajakku jalan , dan sebagai imbalannya aku mempromosikan restorannya , dan tak jarang aku makan di situ . Ah biarlah semua memang telah berlalu , aku hanya berharap Li tak punya pikiran naif padaku . Memang mencari sahabat sejati yang setia mendengar dalam suka dan duka sangat sulit sekali , seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami.

Li , aku masih menyimpan foto kenangan kita , kamu ,aku dan Sin. Kita bertiga berfoto dengan gaya aneh di rumahmu.

Sungguh pertemuan tak terduga yang secara ngga langsung mengajarkan aku untuk bisa menentukan arahku ke depan . Teman mana yang bisa diajak bekerjasama dan tidak.

Kulangkahkan lagi kaki ini untuk melangkah pulang , aku sudah tak sabar lagi menemui ibu dengan senyum hangatnya juga adikku dan si Ai ponakanku yang lucu yang akan menyambut aku dengan tawa inocentnya . Ah … dunia ini rasanya indah kalau sudah ada di rumah , ibaratnya HOME SWEET HOME , rumahku istanaku.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s